Gowa, Pensilrakyat.com – Progam Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang digagas sejak awal masa pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Jokowidodo hingga kini merupakan proyek pembangunan peningkatan infrastruktur yang telah memberikan gambaran kemajuan meningkatnya strata kehidupan ekonomi masyarakat di Wilayah Republik Indonesia. Hal mana, perwajahan infrastruktur yang dianggap terlihat kumuh dianggarkan sangat besar oleh pemerintah untuk disulap menjadi sebuah infrastruktur yang lebih menarik hingga jauh dari strata ketertinggalan dan berkelanjutan, itulah Program Kotaku.

 

Namun lain halnya di jalan Tirta Jeneberang Kelurahan Tompobalang Kecamatan Sombaopu Kabupaten Gowa, proyek pengerjaan saluran air yang menjadi bagian dari program Kotaku oleh kementerian PUPR Sulsel bersama Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan-Jeneberang  sepertinya bakal menjadi duka dan kecemasan bagi ratusan Kepala Keluarga (KK) warga yang bermukim di jalan Tirta Jeneberang dan Warga jalan Swadaya, Sungguminasa Kabupaten Gowa.

Pasalnya, menurut beberapa warga yang bermukim di sepanjang proyek tersebut mengatakan, bahwa disetiap turun hujan lebat maka saluran air dari selokan warga sekitar akan tumpah ruah dan genangannya masuk ke rumah rumah warga karena drainase yang dibangun oleh proyek Kotaku kedudukannya berada diatas jalan lingkungan permukiman warga Swadaya dan Tirta Jeneberang hingga buangan genangan air saat hujan dari jalanan tumpah ke kediaman seputar tempat tinggal mereka,” terang salah satu warga yang terlihat kesal tanpa ingin disebut identitasnya. Ahad, 12 November 2022.

See also  Bupati Bone Akui Peran IKAPTK Dalam Pembangunan

Hal ini pun diamini oleh La’lang yang kebetulan nimbrung di lokasi pengambilan gambar proyek Kotaku yang pengerjaannya terindikasi lamban, terlebih proyek ini terkesan dikerjakan begitu saja tanpa mengabaikan dampaknya kepada warga yang bermukim disekitar jalan Tirta Jeneberang dan warga Swadaya.

Bukan hanya itu, proyek ini juga sangat menghambat pengguna jalan yang melintas di belokang menurun ke jalan Tirta saat tanjakan menuju Jembatan Kembar Sungguminasa.

Di lokasi tersebut nampak jelas lobang galian yang agak dalam memotong badan jalan lintasan jalan Tirta Jeneberang dan saat ini belum ada upaya perbaikan kembali. Bahkan menurut Dg. Ngampa warga Tirta Jeneberang yang kesehariannya menjual bambu di lokasi tersebut,  mengatakan, bahwa kondisi ini sudah berjalan kurang lebih 4 bulan lalu, galian di jalan yang menurun sebelum jembatan kembar itu selaku pribadi sudah beberapa kali saya timbun sendiri,” Terang Dg. Ngampa. (DPr)